Menyebarkan Brosur dengan Efektif

Sebelum kita mengenal istilah free product, di Amerika ada seorang pengusaha peralatan memasak yang pergi dari satu rumah ke rumah yang lain menawarkan buku resep masakan gratis. Buku itu memuat aneka ragam resep masakan enak yang bisa dibuat di rumah. Dalam buku itu, dia hanya menyediakan 1 halaman berisi produk-produknya. Sisanya masakan semua. Namun, dia memilih masakan-masakan yang menggunakan peralatan masak yang dia sediakan. Alhasil dengan modal cetak buku, dia berhasil meraih untung besar dari penjualan peralatan memasaknya.

Hari ini kita menemui, buku resep memasak justru diberikan setelah pembelian. Artinya mereka tak pernah membayangkan bagaimana masakan yg dihasilkan dengan alat itu. Akhirnya produsen justru menyewa slot acara di televisi dan dilakukan berhari-hari hingga berbulan-bulan sebagaimana cara promosi di televisi biasa. Jelas, biaya yang dibutuhkan akan sangat besar.

Kita juga sering menemui penjual atau sales motor membagikan brosur di jalan yang ramai. Menurut saya ini sangat tidak efektif. Kenapa?

Saya sudah pernah coba membagi brosur, di dalam brosur itu ada voucher warnet gratis selama 1 jam. Tapi pasca penyebaran brosur, gak ada satupun orang yang datang ke warnet saya membawa brosur itu.

Hari berikutnya saya sebar brosur ke anak-anak sekolah. Dan saya pilih sepulang sekolah memberikan brosurnya. Tak hanya itu, karyawan saya suruh mengucapkan "gratis internetan 1 jam mbak/mas".

Dan dahsyat.. gak lama setelah brosur di bagikan warnet saya full dan semua bawa voucher itu. Tentu 1 jam gak cukup, sehingga masing2 siswa nambah 1 jam lagi karena minimal hitungannya adalah per jam hehehe..

Keramaian terus bergulir hingga hari-hari berikutnya. Setiap pulang sekolah, warnet kami selalu ramai dikunjungi siswa-siswi sekolah itu.

Membagi brosur juga ada seninya. Jangan membagi brosur pada orang yang punya tujuan. Contohnya di jalan. Karena orang berkendara itu pasti sudah punya tujuan hendak kemana dan pikirannya sudah memikirkan mau ngapain aja di sana. Jadi, brosur kita akan terbuang begitu saja.

Kalau jual motor sebaiknya dimana? Tentunya di pabrik-pabrik saat pulang kerja. Bagi yang naik angkot, mereka akan punya banyak waktu membaca brosur kita, apalagi dengan tambahan kata2 waktu membagikan. Jadi, jangan cuma bagi2 tanpa bicara apapun.

Hal yang sama juga saya lakukan di stand TokoOnline.com ketika Pesta Wirausaha 2013 di Jakarta kemarin. Tim kami membagikan brosur ke setiap orang yang lewat, tapi dengan ucapan "Mau toko online gratis pak/bu/mas/mbak?". Dan lebih dari 50% yang lewat berhenti, sekitar 30%-an berhenti karena penasaran dengan keramaian di depan stand kami. Dalam sehari kami mendapatkan pesanan lebih dari 20 toko padahal tiap toko harus beli domain di kami juga.

Ada lagi brosur yang dibuat cukup unik. Tapi karena sekarang sudah banyak, jadinya gak unik lagi hehe.. Yaitu brosur dengan gantungan benang wol. Brosur 2 sisi dimana salah satu sisinya berisi daftar nomor telp dan sisi lainnya berisi informasi produk. Ketika awal2 dulu, keluarga kami menyimpannya. Bahkan ada 1 brosur yang masih tersimpan sampai sekarang karena berisi informasi reparasi berbagai peralatan listrik.

Saya coba membayangkan, apakah ada yang memberikan magnet lemari es gratis berisi info produk dan nomor telp-nya untuk produk2 air galon atau gas elpiji? Atau sebuah gantungan kunci karet berisi gambar lucu dengan sedikit info toko mainan kita? bikin gantungan karet hanya 5rb-an saja kan?

Itu adalah bentuk2 brosur yang akan disimpan dengan rapi di rumah. Teknis penyebarannya bisa macam-macam. Misalnya mendatangi rumah calon pelanggan, menawarkan elpiji dengan layanan antar. Sebagai ucapan terima kasih, kita beri mereka magnet lemari es berisi info toko kita. Mengelap galon sebelum dikirim, juga bentuk servis yang akan membuat mereka betah menjadi langganan kita.

Bagaimana diterapkan di Bisnis Online? Membagikan brosurnya ke setiap kota? temukan jawabannya nnt :)

Oleh: Lutvi AvandiUpdate: 27 Feb 2013 04:42