Dalam bisnis, seringkali ketika belajar kita dituntut untuk ATM alias Amati, Tiru dan Modifikasi. Mengamati dan Memodifikasi mungkin sudah sangat jelas bagi kita. Tapi Meniru nah ini yang batasannya sering gak jelas sama sekali.
Saya pernah dan mungkin sering sekali mendengar bahwa “Ilmu itu dari Allah, jadi kita nggak boleh jual ke orang lain. Wong kita dikasih juga gratis kok”. Biasanya saya akan tersenyum saja. Kecuali kalau memang ada di forum diskusi. Tapi kalau cuma di bagian komentar biasanya saya acuhkan. Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dari ungkapan rekan kita ini:
- Benar sekali bahwa Ilmu itu datangnya dari Allah. Ilmu adalah milik Allah dan diberikan secara gratis kepada kita.
- Tapi harus diingat juga bahwa ilmu gratis itu butuh ongkos kirim supaya sampai ke otak kita.
- Ilmu juga butuh ongkos packing agar mudah dibawa dan masuk ke otak kita dengan selamat
- Ilmu juga butuh ongkos jaminan keaslian agar Ilmu yang sudah diberikan Allah itu sama persis bentuknya saat mendarat di otak kita.
Tanpa adanya ongkos kirim, ongkos packing dan jaminan keaslian, bisa dipastikan Ilmu itu akan tetap di sisi Allah. Kecuali Allah menghendaki ilmu-Nya mendarat ke otak anda sabagaimana para nabi dan Rasul.
Sama seperti anda beli air. Lha siapa coba yang menciptakan air. Pernahkan kita membayar agar turun hujan. Lalu kenapa kita harus beli air ke PDAM atau beli air ke perusahan pengemasan air?
Karena dari Allah, air butuh ongkos kirim, ongkos packing dan jaminan keaslian. Mau ndak anda ngambil sendiri di sungai, lalu menyaringnya sendiri dan baru meminumnya? Saya yakin walau anda tahu cara menyaring air anda akan jijik waktu meminumnya.
Itulah sebabnya kenapa guru-guru di sekolah, para dosen dan para penjual ebook meminta kita membayar biaya tertentu. Dengan anda membeli ebook mereka, anda sudah menyelamatkan jalur distribusi ilmu ini. Bayangkan jika ebooknya anda bajak lalu disebarkan ke forum-forum. Maka sang penulis bisa aja kan menyetop distribusi ilmunya dan memakainya untuk dirinya sendiri dan hanya orang-orang tertentu yang dia kenal? Lalu siapa yang rugi coba?
Tapi, walaupun anda dilarang membajak, bukan berarti anda dilarang meniru. Bedanya apa mas?
Membajak itu, kita mengambil materinya mentah-mentah lalu menjualnya lagi ke orang lain. Atau jika produk digital, anda sebarkan linknya ke orang lain.
Sedangkan meniru adalah anda mengambil idenya, mempelajarinya dengan seksama bagaimana cara menyampaikannya hingga anda cukup menguasainya lalu mulai membuat produk serupa. Contoh paling gampang adalah ebook Mastering WordPress 2.9.2 milik saya.
Kalau anda mendownload-nya lalu menguploadnya ditempat lain dan menjualnya pada orang lain, maka anda disebut pembajak.
Tapi kalau anda mendownloadnya, mempelajarinya sampai paham lalu menulis ebook serupa dengan bumbu-bumbu khas anda, gambar-gambar anda sendiri dan menjualnya, maka anda sudah meniru. Dalam hal ini tak ada seorangpun yang bisa menyalahkan anda. Sama seperti buku tentang Facebook yang berderet di toko buku-toko buku sekarang. Jika anda perhatikan, tema dan materinya hampir sama semua tapi bahasa dan penyampaiannya aja yang berbeda-beda. Ada yang ngasih judul facebook for business, facebook untuk UKM, facebook untuk gaul, dll. Padahal isinya ya sama Panduan Facebook.. hehehe..
Nah, jika anda sudah menjadi penjual ebook atau penulis buku, anda harus paham betul soal ini. Jangan sampai hanya gara-gara materinya sama lalu anda mencap seseorang sebagai pembajak. Apalagi mengklaim bahwa ilmu itu milik anda dan orang lain dilarang mengajarkannya.. hehehe… Lha kalau ilmunya ilmu umum seperti cara membuat web, cara onpage SEO, offpage SEO, bisnis affiliasi, kan repot kalau kita mengklaim sebagai satu-satunya yang berhak mengajarkan ilmu itu. Misalnya saya membuat ebook soal WordPress, maka gak ada yang boleh membuat ebook WordPress juga, ya repot kan? So, silahkan tirulah idenya dan aplikasikan dengan cara dan versi anda sendiri.
Jika saat ini kekurangan ide, cari aja ebook2 yang beredar sekarang, pelajari dan pahami lalu buatlah ebook serupa dengan gaya dan versi anda sendiri. Ingat lho, cara anda membaca sebuah buku, belum tentu sama dengan cara penulisnya membaca buku yang sama. Imajinasi dan pengalaman biasanya akan mempengaruhi cara kita memahami suatu buku.
lha pak klo kemampuan untuk meniru dan mengembangkan sndiri tidak ada, kmungikinan besar jadi pirate ga y?heeee
klo saya setuju menirunya pak, dan meng customizenya dengan memberikan inovasi2…
katakan tidak untuk pembajakan, he he he
setuju mas….!!!
setuju mas lutfhi… sudah saatnya kita menghargai hasil kerja orang lain,perlu dicatat pembajak itu bukan maling tapi perampok …hi.hi
setuju mas, membajak sangatlah dilarang.
#Betul bgt tuh, "Beli – Pelajari – Modifikasi – Jual"
setuju sekali mas lutvi, membajak dan meniru memang berbeda,orang boleh meniru, tetapi dilarang keras melakukan pembajakan.
Setuju Banget Mas…Menirrru Bukan Berarti membajak..
kalo sebuah produk dibajak itu tandanya produk tersebut bagus…doakan saja semoga pembajaknya cepat bertobat…:D
setuju Mas, ini lagi buat ebook simpel. MOhon do'anya biar bisa kelar dan nanti minta advise dari Mas Lutvi
Sharing is Caring LOL … Bejanda…
pembajak asli itu ya petani di sawah, lengkap dengan sapinya … h h h
salam
maksudte piye to mas….?
gk mudeng mas soal istilah gt an…:P:D
stop pembajakan…, yang membajak pada akhirnya juga akan malu sendiri….cmiiw pak lutvi…