Saat traveling ke Malang kemarin, saya asyikbaca buku Rich Dad Poor Dad. Sebagai pebisnis, memang saya cukup telat karena baru baca buku ini sekarang. Abis belum baca udah dapat banyak masukkan tentang isi buku itu. Nah, akhirnya kemarin coba-coba ah baca. Walaupun tebel tapi karena bacanya di perjalanan gak bakal terasa deh.. hehehe..
Akhirnya saya pun mulai membaca bab pertama hingga bab 3. Saya simpulkan isinya adalah tentang 2 hal yaitu aset dan liabilitas. Aset adalah barang-barang yang kita miliki yang mampu menjadi pemasukan buat kita tanpa kita harus bekerja di dalamnya.
Tapi liabilitas adalah barang-barang yang kita miliki yang cepat atau lambat terus-terusan menguras kantong kita.
Sebuah barang bisa bernilai aset tapi juga bisa menjadi liabilitas.
Misalnya rumah. Ketika rumah itu kita tempati, maka kita wajib membayar listriknya, telponya, airnya, sampahnya, iuran RT, pajak, dll. Belum lagi kalau ada acara tujuh belasan, pasti deh kita harus keluar duit lagi. trus untuk perbaikan atap, cat, dll. Semuanya butuh biaya dan darimana uangnya? Tentu saja dari kantong kita.
Tapi sama-sama rumah jika kita buat petak-petak lalu kita koskan untuk 10 orang saja dengan biaya 150 ribu per bulan, maka kita sudah bisa memenuhi kebutuhan itu semua.
Nah, dulu setiap saya cari rumah saya selalu berpikir usaha apa yang bisa saya buat di rumah itu. Rumah saya yang pertama saya buat usaha penjualan sari kedelai, pulsa, dll. Lumayanlah hasilnya lebih dari cukup untuk membayar iuran RT dan listrik. Untung belum ada telpon dan air.. hehe…
Lalu karena kebanjiran, saya putuskan untuk pindah walaupun masa kontraknya belum selesai.
Tapi sering juga saya terjebak pada liabilitas walaupun pada awalnya saya kira itu adalah aset. Tapi karena punya jurus kedua yaitu bersyukur ya alhamdulillah ada juga manfaatnya walaupun tidak secara materiil.
Nah, mulai sekarang cobalah untuk menabung aset. Ingat, aset haruslah bisa mengembangkan harta anda tanpa anda perlu bekerja. Dan ingatlah bahwa setiap rupiah yang anda keluarkan di aset jangan pernah untuk menariknya kembali hingga dia mampu menjadi berlipat-lipat.
Yang paling gampang sebenarnya emas. Disamping kecil resikonya, emas juga punya kepastian untuk berkembang seiring laju inflasi. Tapi bukan sekedar emas lho. Usahakan emas yang anda beli adalah emas batangan atau koin. Karena jika anda beli dalam bentuk perhiasan, maka nilainya akan berkurang cukup drastis saat anda menjualnya lagi. Karena ada biaya kerajinan disana. Padahal ketika di jual biaya kerajinan itu tidak dinilai.. hehehe..
Bener mas… susah ngebedain aset vs liabilitas. Saya juga baru tahu setelah baca rich dad poor dad. Coba sambung di cashflow quadrant mas… Sama2 mantepnya
Kalau defenisi pribadi saya tentang Aset dan Liabilitas agak kasar bunyinya mas, ini pun saya dapat dari pak Tung DW: “Aset adalah sesuatu yang memberi kita makan, sedangkan Liabilitas adalah sesuatu yang memakan kita”. hehe..
Aset yang mudah didapat dalam dunia online misalnya Website (blog). Sales letter atau artikel bisnis juga sebangsa aset. Tapi banyak juga website yang merupakan liabilitas, yaitu website yang memakan pemiliknya, misalnya website yang belum profit tetapi sudah expired, ati-ati.
Mungkin pendapat saya salah ya:)
Belum tentu Aset yang menghasilkan pemasukan dan Liabilitas adalah pengeluaran.
Sebab dari pengalaman saya waktu mencicil tanah memang itu liabilitas tapi jika tanah tsb dibangun ruko trus dikontrakan akan menghasilkan pemasukan dgn nilai yang lebih.
Jadi Liabilitas belum tentu pengeluaran bisa menjadi Aset buat kita.